Akuntansi Perpajakan untuk Pos Kas dan Setara Kas

Cash is King. Pernyataan itu adalah postulat yang pertama dalam konsep umum ilmu manajemen keuangan. Secara terjemahan bebas, pernyataan itu berarti: “Uang Tunai adalah Raja”. Hal ini tentunya tidak berlebihan karena dalam sudut pandang bisnis dan investasi, nilai uang tunai sekarang lebih berharga daripada uang yang nilainya boleh jadi lebih besar tetapi baru akan didapat beberapa waktu kemudian. Gambaran ini menunjukkan kepada kita bahwa kas atau uang tunai memegang peranan penting dalam kesehatan suatu perusahaan atau entitas bisnis secara keseluruhan. Permasalahannya adalah samakah definisi kas menurut sudut pandang ini dengan definisi kas menurut sudut pandang akuntansi? Jawabannya tidak. Kas menurut sudut pandang akuntansi dijabarkan lebih luas lagi sebagai uang logam, uang kertas, saldo rekening di bank, dan tabungan deposito yang tersimpan di bank, serta termasuk pula instrumen keuangan transaksional lainnya seperti surat perintah pencairan baik berupa: certified check, cashier’s check, personal check, dan bank drafts. Selain kas, dalam akuntansi dikenal juga istilah akun setara kas (cash equivalent) yaitu investasi jangka pendek dan sangat mudah dicairkan untuk memenuhi kewajiban jangka pendek biasanya berupa sekuritas yang siap/tersedia untuk dijual (avalaible for sale securities) sehingga keberadaanya tidak digunakan untuk investasi jangka panjang yang cenderung berupa held-to-maturity.

Pada suatu perusahaan, kas umumnya dibagi menjadi kas besar dan kas kecil (petty cash). Kas besar selalu tersimpan di bank dan hanya dicairkan untuk pengeluaran tertentu yang nilainya lebih besar daripada pengeluaran rutin yang sudah dialokasikan untuk dibiayai dari kas kecil yang sudah tersimpan di brankas perusahaan. . Untuk mendanai kegiatan operasional sehari-hari dan sebagai bentuk pengendalian kas, maka kas kecil selalu dipantau penggunaanya dengan sistem dana tetap (imprest fund system) dan sistem dana fluktuatif (fluctuating fund system). Pada sistem dana tetap pencatatan transaksi dan perubahan saldo dana kas kecil dilakukan saat penggantian dana, sementara pada sistem dana fluktuatif maka pencatatan transaksi dan perubahan saldo kas kecil dilakukan saat setiap terjadinya pengeluaran dana kas kecil. Perusahaan dibebaskan memilih salah satu sistem pencatatan tersebut sepanjang dilakukan secara konsisten dalam satu periode pembukuan. Pencatatan dalam jurnal oleh perusahaan untuk membukukan transaksi yang terkait dengan dana kas kecil dilakukan untuk transaksi: pembentukan dana kas kecil, pengeluaran dengan dana kas kecil, dan pengisian kembali (revolving) dana kas kecil.

Didalam laporan keuangan perusahaan, akun kas (baik kas besar maupun kas kecil) disajikan didalam Laporan Posisi Keuangan (Neraca) sebagai aset di posisi paling atas (berdasarkan urutan likuiditas) sementara akun setara kas berada dibawahnya. Saldo kas yang disajikan tersebut adalah saldo yang telah dilakukan proses rekonsiliasi antara saldo kas di tangan (cash on hand), saldo kas di bank (cash in bank). Saldo kas pada perusahaan bersumber dari beberapa kegiatan. Ketika perusahaan baru berdiri, kas berasal dari setoran modal awal pemilik atau jika dirasa belum mencukupi, biasanya perusahaan juga memperoleh kas dari pinjaman pihak lain sehingga menimbulkan komitmen untuk membayar/melunasi pada masa yang akan datang (utang). Sementara pada perusahaan yang telah menjalankan kegiatan bisnis, kas diperoleh dari pendapatan usaha atau pendapatan non usaha lainnya yang dananya bersumber dari pengelolaan aset perusahaan dalam bentuk lain seperti investasi atau penjualan aset yang semula tidak untuk diperjualbelikan.

Keberadaan aspek perpajakan pada akun kas muncul jika kas difungsikan sebagai instrumen tertentu yang dari fungsi tersebut dihasilkan pendapatan berupa bunga. Instrumen tersebut adalah berupa tabungan atau deposito. Kedua jenis instrumen ini memberikan pengembalian kepada Wajib Pajak berupa bunga yang menurut sudut pandang perpajakan merupakan penghasilan (objek pajak). Dasar hukum pemajakan atas bunga yang diperoleh dari tabungan dan deposito adalah Peraturan Pemerintah Nomor 131 Tahun 2000 tentang PPh atas Bunga dan Deposito serta Diskonto Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan Keputusan Menteri Keuangan Nomor KMK-51/KMK.04/2001 tentang Pemotongan PPh atas Bunga Deposito dan Tabungan serta Diskonto SBI. Bunga sebagaimana dimaksud dalam konteks ini adalah bunga yang diberikan oleh bank yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia atau cabang bank asing di Indonesia. Ini berarti bunga yang diperoleh atas kepemilikan tabungan atau deposito yang ditempatkan pada bank asing di luar Indonesia dikecualikan dari pengenaan ini. PPh yang dikenakan atas bunga dari tabungan atau deposito ini bersifat final (PPh Final Pasal 4 Ayat (2)) dengan tarif sebesar 20% (dua puluh persen) dari suku bunga yang diperoleh (bukan nominal tabungan/deposito) sepanjang nilai tabungan/ deposito diatas Rp7.500.000,-. Tarif tersebut dapat berubah lebih rendah jika Wajib Pajak yang memperoleh bunga tersebut adalah Wajib Pajak Luar Negeri yang terhadap negara asalnya telah terjalin Tax Treaty tentang Perjanjian Penghindaran Pengenaan Pajak Berganda (Perjanjian P3B) dengan Pemerintah Indonesia.

Sehubungan dengan adanya aspek perpajakan PPh Final tersebut, maka pencatatan atas pendapatan bunga yang diterima Wajib Pajak akan disajikan pada Laporan Rugi/Laba sebesar nilai neto yang diterima karena pada dasarnya Wajib Pajak hanya menerima nilai bersih setelah dikurangi pemotongan akibat pengenaan PPh Final. Dalam proses rekonsiliasi akhir tahun ketika menyusun SPT Tahunan maka pendapatan atas bunga yang telah dikenai PPh Final harus dicoret (koreksi negatif) karena dalam ketentuan perpajakan, penghasilan yang telah dikenai PPh Final tidak boleh lagi diperhitungkan. Contoh kasus atas akuntansi perpajakan untuk perolehan pendapatan bunga dari kas yang disimpan dalam bentuk tabungan dan atau deposito adalah sebagaimana tersaji berikut ini:

PT Zambuanga pada tanggal 01 Januari 2016 mendapatkan bunga tabungan secara bertahap sebesar Rp2.000.000,-. Atas pendapatan tersebut PT Zambuanga telah dipotong PPh Final Pasal 4 Ayat (2) sebesar 20% dari pihak bank selaku yang memberikan imbalan bunga.

Jumlah suku bunga bersih yang diterima PT Zambuanga:

Rp2.000.000,- – (Rp2.000.000 x 20%) = Rp2.000.000 x 80% = Rp1.600.000,-

Menurut gross method maka pencatatan/jurnal atas penerimaan penghasilan bunga ini adalah sebagai berikut:

Keterangan Debit Kredit
Bank (Cash) Rp1.600.000
Beban PPh Final Pasal 4 Ayat (2) Rp400.000
           Pendapatan Bunga Rp2.000.000

 

Untuk menyeimbangkan saldo pendapatan bunga yang secara riil hanya diterima sebesar Rp1.600.000,- maka beban PPh Final Pasal 4 Ayat (2) dicatat sebagai biaya lain-lain sehingga otomatis menjadi pengurang pendapatan bunga (yang juga diakui sebagai pendapatan non usaha/lain-lain) dan mengakibatkan pengakuan yang dicatat bersih adalah Rp1.600.000,-.

Sementara itu jika transaksi diatas dicatat dengan menggunakan metode nett method maka jurnal yang disusun oleh PT Zambuanga adalah sebagai berikut:

Keterangan Debit Kredit
Bank (Cash) Rp1.600.000
           Pendapatan Bunga Rp1.600.000

 

Metode ini tidak lagi mengakui beban PPh yang sudah dipotong pihak bank sehingga tidak lagi dicantumkan di laporan rugi laba sebagai pengurang melainkan otomatis hanya mencantumkan nilai bersih pendapatan bunga yang diterima. Selain itu, untuk kepentingan penelurusan nilai penambahan kas yang diperoleh dari pendapatan bunga ini maka perusahaan juga akan mencantumkan perolehan kas dari pendapatan bunga ini didalam Laporan Arus Kas sebagai sumber kas masuk dari aktivitas investasi. Pada akhir tahun perusahaan akan melakukan rekonsiliasi kas sehingga penambahan saldo kas di bank dari pendapatan bunga akan disandingkan dengan saldo kas menurut catatan perusahaan. Sehingga jika proses pencatatan atau penjurnalan telah dilakukan dengan benar dan melalui metode yang konsisten akan sangat membantu proses rekonsiliasi dan kebenaran nilai saldo kas yang akhirnya dicantumkan di dalam Laporan Posisi Keuangan (Neraca).

Gambar diambil dari:

https://www.google.co.id/search?q=cash+flow&biw=1366&bih=662&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwiMuNTagI7QAhVCgI8KHUV5BeQQ_AUIBigB#imgrc=Lb-3r168CR3MsM%3A

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *