Dialog Petang Bersama Aris

Oleh: Erikson Wijaya

Editor: Ahmad Taufiq Rosidi

Lur, bukan bemaksud nak membanggakan diri.Kemarin pas seleksi Account Representative, aku dipilih mewakili KPP Pratama Sekayu, ujarnya di sela-sela perbincangan kami.

Sembari tersenyum, saya menjabat tangannya dan mengucapkan selamat. Segala yang baik tentu menggembirakan tetapi kabar yang satu ini juga terdengar tidak biasa untuk orang sepertinya. Namanya Aris Prayudha (31). Kami berteman baik sejak hampir sewindu yang lalu. Ia baru saja dinobatkan menjadi Account Representative (AR) terbaik tingkat Kantor Pelayanan Pajak (KPP). Saya paham,untuk mencapai predikat itu, ia harus menjalani proses panjang dengan penilaian yang rumit. Terlebih sekarang, di mana penentuan akhir didasarkan pada penilaian sesama AR. Artinya, ia adalah sosok yang dihargai dan memiliki reputasi baik di kantor. Saya merasa perlu angkat topi untuknya.

“Tapi awak tahulah, Lur, aku ni dak pacak tampil di depan umum atau betegak depan wong rami. Bingung aku makmano nak paparan di depan banyak wong-wong pintar di Kantor Wilayah gek.” Tetapi kau tahu sendiri, aku tak terlalu piawai tampil di muka umum, atau berdiri di depan orang banyak. Aku bingung bagaimana harus membuat paparan di hadapan banyak orang pintar di kantor wilayah nanti. Begitu kira-kira maksud kalimat Aris.

Saya maklum dengan kekhawatirannya itu. Ia cerdas, rapi, dan tekun. Tiga sikap itu lebih dari cukup untuk modal mengejar impian banyak orang: kemenangan, panggung, dan pengakuan. Namun,ia tak berminat memanfaatkannya. Saya bahkan ragu, apakah di kamusnya juga ada kata ambisi, menang, juara, dan sebangsanya. Ia tetap Aris yang sama dengan yang saya temui saat di kampus bertahun-tahun silam. Saya tidak pernah mendengarnya bersumbar tentang mimpi besar seperti umumnya pemuda usia dua puluhan. Apalagi sekarang, ketika kami sudah menjejak kepala tiga.

Tapi yo nak apo lagi, kawan-kawan milihnyo aku.

Saya diam. Bukan karena kalimatnya tak penting untuk direspon, hanya saja, saya selalu payah dalam menanggapi perkara pribadi. Saya hanya bisa menyetujuinya dalam hati, ia memang pantas mendapatkan itu.

Ini tahun kesebelasnya di Direktorat Jenderal Pajak. Sementara di KPP Pratama Sekayu, ia sudah memasuki tahun kelima. Ia baru menjadi AR setahun lalu. Sebelumnya, ia berada di Seksi Ekstensifikasi dan Penyuluhan. Sebagai AR Pelayanan dan Konsultasi, Aris bertanggungjawab menerima keluhan, mendengarkan aspirasi, melayani, dan memberi solusi atas permasalahan teknis perpajakan kepada Wajib Pajak.

Dengan wilayah hukum seluas 14.265,96 kilometer persegi, beban kerja KPP ini tak bisa dibilang kecil. Apalagi sebagai ibu kota kabupaten, Sekayu adalah yang terpadat dibanding daerah lain di Musi Banyuasin. Bisa dibayangkan volume konsultasi dan pelayanan administrasi yang harus Aris tangani bersama rekan-rekannya. Selain profesionalisme, setiap orang dituntut piawai menghadapi bosan.

Aku selalu tidak betah kalau terlalu lama meninggalkan meja kerja.Paling kalau memang sedang bosan, ya nongkrong sebentar keluar atau muter lagu dangdut,” jawab Aris saat ditanya caranya menjalani pekerjaan.

Ada banyak sisi bernilai yang ia miliki. Ia menggemari kesempurnaan di setiap detil pekerjaannya. Ia telaten menata dan menyelesaikan satu demi satu pekerjaan, yang tanpa ia sadari, akan menjadi legacy ketika ia harus mutasi suatu saat nanti. Tak pernah terdengar ia bimbang akan masa depan. Di atas kertas, kehidupannya begitu terukur dan terencana. Ia seperti musafir yang paham perjalanan macam apa yang akan dilalui, dan sebanyak apa bekal yang harus disiapkan.

Lebih dari itu, satu hal yang membuat ia terhormat tentunya adalah integritas. Saya belum pernah mendengar selentingan bahwa dia berbuat lancung walau kondisi ekonominya belum lapang betul. Padahal, dengan posisi dan kapasitas yang ia miliki, godaan itu bisa muncul kapan saja. Direktorat Jenderal Pajak beruntung memiliki orang sepertinya. Bisa jadi konsistensi itu yang membuatnya diapresiasi positif oleh kolega dan atasan. Ia mungkin tidak menonjol, jauh dari sorot atensi khalayak, dan berkarya dalam sunyi. Namun,semua yang ia kerjakan adalah tentang niat baik dan segenap tanggung jawab. Sehingga saat momen itu tiba, dia yang dipilih.

Materi sudah kukirim ke kantor wilayah beberapa menit sebelum batas akhir.Yo seadonyo. Sesuai dengan ide yang mampu aku buat.

Obrolan kami sore itu akhirnya ditutup dengan kekhawatiran yang masih membayanginnya, yakni bagaimana ia berhadapan dengan para penguji pada seleksi tingkat kantor wilayah. Saya cuma bisa berusaha meyakinkannya,bahwa bukan hal fantastik atau hal besar saja yang boleh diangkat. Hal kecil sekalipun, tetap perlu disampaikan jika memang bermanfaat bagi organisasi. Bukankah inovasi kerap lahir dari hal-hal kecil yang terus disempurnakan?

Langit merembang di barat kota. Kelelawar dan kalong menggantikan burung-burung yang pulang ke sarang. Kami berpamitan saat petang tengah bersiap menyergap semua orang. Jabat tangan dan doa mengantarkan Aris sebelum ia semakin jauh memunggungi saya. Duduk dan berbincang dengan karib yang nir-ambisi seperti dia, membuat waktu seolah bukan lagi bergulir dari detik menuju menit lalu ke jam. Melainkan dari satu kisah ke kisah yang lain.

Saya teringat David McClelland. Dalam buku “The Achieving Society”, McClelland bercerita tentang satu jenis motivasi dalam diri manusia: motivasi untuk berprestasi. Ia seolah hendak menyebut kemenangan, panggung, dan pengakuan adalah hasrat yang diam-diam merasuki hati semua orang. Tentu dunia selalu punya pengecualian untuk semua hal. Selalu ada sedikit manusia yang tak hendak sejalan dengan pemodelan semacam itu, Aris salah satunya. (EW/ATR)

P.S.:


Saat tulisan ini dirilis, Aris dinyatakan tidak memenangi seleksi tingkat wilayah. Pencapaiannya berhenti di tingkat KPP. Mungkin memang ini bukan suatu hal yang sepenuhnya ia kejar.

Gambar diambil dari sini

Satu komentar untuk “Dialog Petang Bersama Aris

  • 9 September 2017 at 19:00
    Permalink

    Mas, mencari tau adanya pembagian dividen di PT dn benchmarking biaya pada pengusaha pelaksana konstruksi gmn ya?

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: