Kamu dan Pajakmu

Sampai detik ini, pajak secara umum masih digambarkan dengan hal yang berbau angka, denda, dan beban. Tiada yang salah dengan gambaran tersebut, namun setidaknya ia masih perlu dijernihkan. Tanpa bermaksud menggurui, tulisan ini sengaja disusun untuk membantu kamu yang mungkin masih perlu memahami mengapa ada pajak dalam kehidupanmu dan orang-orang di negeri tempat tinggalmu.

Pajak yang kamu bayar digunakan untuk membangun sumber-sumber energi yang baru demi menerangi 7,2% penduduk Indonesia yang tersebar di sekitar 2.500 desa di Indonesia. Mereka sampai dengan tahun ini belum menikmati listrik. Papua dan Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan dua provinsi dengan tingkat rasio elektrifikasi terendah di Indonesia.

Pajak yang kamu bayar digunakan untuk membantu 2,5 juta anak Indonesia (2016) yang tidak dapat menikmati pendidikan lanjutan yakni sebanyak 600 ribu anak usia sekolah dasar (SD) dan 1,9 juta anak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP). Alasannya beragam, mulai dari karena masalah biaya, sampai demi membantu orang tua dengan bekerja.

Pajak yang kamu bayar digunakan untuk membantu mencegah semakin tingginya Angka Kematian Ibu (Maternal Mortality Rate) yaitu kematian ibu akibat dari proses kehamilan, persalinan dan paska persalinan per 100.000 kelahiran hidup pada masa tertentu. Data tahun 2016, angka kematian ibu telah mencapai 4.912 kasus di Indonesia.

Pajak yang kamu bayar digunakan untuk mengurangi angka kelebihan kapasitas (overcrowding) penjara yang membuat para narapidana berjejalan menghuni sel. Data per Juni 2017 tercatat bahwa jumlah narapidana di Indonesia sebanyak 153.312 orang. Adapun kapasitas yang dapat ditampung hanya 122.114 narapidana. Berarti secara keseluruhan lapas di Indonesia mengalami kelebihan penghuni mencapai 84 persen.

Pajak yang kamu bayar digunakan untuk  merekrut dan membayar lebih banyak guru mengingat rasio perbandingan antara guru dan murid di Indonesia adalah termasuk yang terendah di dunia, sebagaimana data dari Analytical and Capacity Development Partnership (ACDP). Riset dari Bank Dunia tahun 2013 telah membenarkan hal itu dan menjadi penyebab masalah pendidikan di Indoesia.

Pajak yang kamu bayar digunakan untuk  membantu Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk mempertahankan kekuatan militer Indonesia (personil maupun persenjataan) yang kini berada di peringkat 14 dunia atau terkuat di Asia Tenggara menurut data Global Firepower (GFP) tahun 2017.

Pajak yang kamu bayar digunakan untuk  menyelenggarakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2018 yang dianggarkan sebesar Rp 12,6 triliun. Sebanyak 171 daerah akan melaksanakan Pilkada Serentak pada 2018. Pemilihan Gubernur digelar di 17 daerah, Pemilihan Bupati di 115 daerah dan Pemilihan Walikota di 39 daerah.

Pajak yang kamu bayar digunakan untuk  menolong penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di negeri ini yang pada bulan Maret 2017 mencapai 27,77 juta orang (10,64 persen), bertambah sebesar 6,90 ribu orang dibandingkan dengan kondisi September 2016 yang sebesar 27,76 juta orang (10,70 persen).

Pajak yang kamu bayar digunakan untuk  membantu menambah kuota penerima beasiswa bidikmisi (bantuan pendidikan miskin berprestasi) yang pada tahun 2017 sekitar 80.000 orang dengan total anggaran Rp38 triliun. Makin banyak penerimanya, maka makin bertambah kesempatan Indonesia untuk melahirkan dengan kapasitas yang lebih baik.

Pajak yang kamu bayar digunakan untuk  membantu pemerintah membayar bunga utang yang tahun 2017 mencapai Rp 221 triliun. Angka itu terdiri dari Rp 205,4 triliun untuk membayar bunga utang dalam negeri dan Rp 15,7 triliun untuk membayar bunga utang luar negeri.

Dan sederet kepentingan lainnya…

Kamu boleh saja mengabaikan informasi di atas dengan menduga bahwa belum tentu pajak yang telah dibayarkan itu tepat sasaran. Bisa jadi justru dinikmati segelintir pencoleng yang berbagi bancakan lewat proyek-proyek yang direkayasa. Tetapi, justru disitulah peran kita. Daya kritis kita harus dibangun dari fenomena itu tanpa mengabaikan kewajiban untuk membayar pajak. Dengan kata lain, fakta miris itu bukan alasan atau pembenaran untuk lari dari kewajibanmu atas pajak. Penuhilah, karena pajak yang kamu bayarkan tidak akan sia-sia. Setidaknya ia membuktikan niat baikmu untuk berbagi kepada sesama dan untuk kepentingan negeri ini.

Dan di saat yang sama, mungkin kita perlu lagi mengingat slogan lama yang sempat bergaung beberapa tahun lalu, yaitu: “Lunasi pajaknya, Awasi Penggunaanya”. Apalagi kini, di saat kamu punya banyak ruang dan kesempatan untuk didengarkan. Setuju?

Foto diambil dari sini (Credit: Ali Trisno Pranoto/Getty)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: