Kinerja Account Representative (AR): Sebuah Saran Mendasar

productivity-for-adhd

Sesuai Peraturan Presiden Nomor 28 Tahun 2015 tentang Kementerian Keuangan dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 234/PMK.01/2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Keuangan disebutkan bahwa Direktorat Jenderal Pajak (DJP) memiliki tugas penting untuk menyelenggarakan perumusan dan pelaksanaan kebijakan di bidang perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pada pelaksanaannya, kebijakan tersebut meliputi tiga unsur yaitu: pelayanan, penegakan hukum, dan pengawasan. Ketiganya diharapkan berjalan simultan demi menjamin terwujudnya visi DJP menjadi institusi penghimpun penerimaan negara yang terbaik demi kedaulatan dan kemandirian negara. Visi besar ini mensyaratkan rumusan yang tepat atas pelaksanaan unsur pelayanan, penegakan hukum, dan pengawasan.

AR merupakan salah satu pemain dalam mensukseskan pelaksanaan rumusan ketiga unsur tersebut. Baik AR yang menjalankan fungsi pelayanan dan konsultasi Wajib Pajak maupun AR yang menjalankan fungsi pengawasan dan penggalian potensi Wajib Pajak. Uraian lebih jauh mengenai pembagian tugas ini dapat dibaca di dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 79/PMK.01/2015 tentang Account Representative di Kantor Pelayanan Pajak. Tugas dan pekerjaan strategis yang diamanahkan kepada AR menunjukkan bahwa DJP memberikan kepercayaan yang demikian besar dalam mengemban pencapaian visi dan misi DJP (Purnomo, 2015). Sederhananya, AR bagaikan ujung tombak yang selalu diandalkan sehubungan dengan tugas pencapaian target penerimaan negara di setiap Kantor Pelayanan Pajak.

Bertugas sebagai AR tidak mudah, beragam beban pekerjaan yang rutin maupun ad hoc menuntut AR untuk memiliki kemampuan manajerial yang memadai. Setidaknya AR harus memiliki kemampuan pada tiga fungsi yang dijalaninya: pelayanan, pengawasan, penegakan hukum. Tulisan ini lebih banyak berbicara pada fungsi yang kedua yakni pengawasan. Sedangkan dua lainnya penulis kira sebaiknya diuraikan dalam kesempatan yang terpisah (jika ada kesempatan). Berkaitan dengan fungsi pengawasan, terdapat dua prinsip klasik yang harus dipegang seorang AR, yakni: know your tax payer dan know your territory.

Know Your Tax Payer

Seorang AR wajib tahu kondisi Wajib Pajak yang diawasinya. Kondisi tersebut pada tahap awal setidaknya meliputi: jumlah, komposisi, dan status wajib pajak yang diawasinya; urutan kelompok sektor usaha; kontribusi pembayaran pajak tahun sebelumnya dan tahun berjalan; dan status pelaporan SPT Tahunan/Masa per Wajib Pajak. Keempat hal ini adalah hal kasat mata yang dapat segera dengan mudah menjadi alat pengawasan. AR dapat berkomunikasi dengan seksi Pengolahan Data dan Informasi untuk mendapatkan semua data terkait hal-hal mendasar tersebut. Berikut makna dari masing-masing keempat hal yang penulis coba sebutkan diatas.

Jumlah, Komposisi, dan Status Wajib Pajak

Di tengah beban kerja yang berat, tidak semua Wajib Pajak layak mendapat perhatian. Bahkan beberapa patut diabaikan sementara waktu khususnya bagi kelompok Wajib Pajak dengan status non aktif seperti Non Efektif atau Delete. Oleh sebab itu, penting bagi AR untuk menyusun secara periodik semacam daftar Wajib Pajak per status sehingga dapat diketahui dengan jelas jumlah Wajib Pajak yang terbilang aktif dan non aktif. Pengelompokkan ini sebaiknya dibuat lebih rinci sampai per jenis Wajib Pajak (Orang Pribadi, Badan, dan Bendaharawan). Dengan langkah ini, AR dapat lebih menghemat energi dan menepikan Wajib Pajak non prioritas dalam melakukan tindakan pengawasan. Langkah ini juga merupakan semacam tindakan siaga atas serangan mendadak dari pertanyaan: “berapa jumlah wajib pajak anda?” sebab ia kerap kali hadir secara tidak terduga waktu dan arah kedatangannya. Dan pertanyaan tersebut dapat menjadi pertanyaan paling mendasar untuk menilai seberapa baik seorang AR memahami perannya.

Kelompok Sektor Usaha Dominan

Mengenal jenis usaha yang dijalankan Wajib Pajak adalah pekerjaan rumah berikutnya yang harus dikuasai AR setelah ia menyusun daftar untuk mengetahui komposisi status dan jumlahnya. Jenis usaha yang berbeda menuntut analisis dan pendekatan yang berbeda pula tentunya. Daftar Wajib Pajak aktif yang sudah disusun dapat diolah sebagai bahan dasar untuk mengetahui keberadaan kelompok sektor dalam lingkup Wajib Pajak yang diawasi. Sektor yang diperoleh dapat dikelompokkan menurut kode Klasifikasi Lapangan Usaha (KLU) seperti misalnya: sektor pertambangan mineral dan batubara (minerba), sektor pariwisata, sektor perdagangan, sektor belanja pemerintah (administrasi pemerintahan), atau sektor perkebunan, pertanian, dan kehutanan. Ketika kelompok sektor dominan sudah terbentuk maka AR dapat mulai memetakan kondisi garis besar Wajib Pajak yang diawasinya. Ini sangat membantu untuk menentukan inisiatif strategi utama yang hendak dijalankan dalam waktu dekat.

Kontribusi Pembayaran Pajak Tahun Berjalan dan Tahun Sebelumnya

Daftar Wajib Pajak per sektor usaha dominan yang dilengkapi dengan kontribusi pembayaran pajak tahun berjalan dan tahun sebelumnya merupakan alat pengawasan yang dapat diandalkan. Penyusunan juga dapat dibuat berurutan dari yang terbesar hingga ke yang terkecil secara lintas sektor untuk menentukan Wajib Pajak mana yang patut diawasi dengan ketat. Hasilnya bisa disusun hingga 1.000 Wajib Pajak dan dibagi ke dalam lapis prioritas sesuai preferensi AR. Setiap lapis itu hendaknya dilengkapi dengan deskripsi tindakan rutin yang akan diambil untuk menjalankan fungsi pengawasan terhadap Wajib Pajak terkait. Opsi lain, prioritas pengawasan juga dapat disusun berupa daftar pertumbuhan pembayaran per Wajib Pajak lintas sektor, misalnya: pertumbuhan jumlah pembayaran Wajib Pajak di periode yang sama dalam dua tahun berturut-turut. Dengan pendekatan ini, AR memiliki pintu masuk untuk memperoleh informasi lebih mendalam soal kenaikan/penurunan kegiatan bisnis per Wajib Pajak. Baik kenaikan maupun penurunan pada dasarnya merupakan objek pengawasan yang dapat ditindaklanjuti.

Status Pelaporan SPT Tahunan/Masa

Mengupayakan lebih banyak Wajib Pajak yang ada di bawah pengawasannya untuk melaporkan Surat Pemberitahuan (SPT) dapat dikatakan adalah tugas rutin yang harus selalu diingat AR. Dapat dikatakan bahwa memastikan Wajib Pajak telah memasukkan SPT Tahunan/Masa adalah aganda rutin yang menjaga AR tetap produktif. Informasi terkait status pelaporan SPT Tahunan/Masa bisa diperoleh dari sistem yang tersedia dan dapat ditambah dengan informasi valid dari sumber lain yang bisa dipertanggungjawabkan. Dengan memiliki data ini, AR bisa mengetahui kualitas kepatuhan formal Wajib Pajaknya. Setiap temuan pelanggaran atas kewajiban melaporkan SPT Tahunan/Masa adalah kesempatan untuk melakukan konfirmasi sebagai bentuk pengawasan ke Wajib Pajak. AR perlu memiliki basis data terkait hal ini yang dapat ia olah untuk kepentingan rutin pengawasan.

Secara ringkas, terkait dengan prinsip know your tax payer, dapat disarikan dalam bentuk skema sebagaimana di gambarkan dalam halaman 3 pada link artikel di bawah ini:

 

Saran Kinerja AR

Know Your Territory

Setiap AR di KPP (tidak termasuk KPP Madya, KPP Wajib Pajak Besar, dan KPP di bawah Kanwil DJP Jakarta Khusus) pada dasarnya merupakan perpanjangan tangan DJP untuk wilayah kerjanya masing-masing, mereka memiliki kuasa penuh untuk melakukan pengawasan terhadap potensi Wajib Pajak serta mengeksekusinya sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan. Untuk itu, agar peran tersebut berjalan optimal, penguasaan AR terhadap wilayah kerjanya menjadi hal mutlak yang tidak boleh ditawar lagi. Dengan menguasai wilayah kerjanya, AR dapat bekerja lebih optimal dalam mengawasi Wajib Pajak di daerah tersebut. Aspek teknis pendukung kualitas penguasaan wilayah ini terdiri dari sejumlah unsur antara lain: intensitas visit, pemahaman budaya lokal dan kemampuan komunikasi. Berikut uraian dari ketiga unsur tersebut.

Intensitas Visit

Visit atau kunjungan ke lokasi usaha Wajib Pajak adalah bagian dari upaya untuk mengenal wilayah kerja. AR sebaiknya rutin menjadwalkan kunjungannya, semakin intensif di tahap awal maka akan semakin memudahkan pengawasan di sisa waktu mendatang. Dengan melakukan visit, AR dapat memahami kondisi geografis tempat Wajib Pajaknya tinggal dan menjalankan usaha. Visit tentu saja bukan sekadar berpindah dari kantor ke alamat Wajib Pajak, tetapi lebih dari itu. Visit oleh seorang AR harus dimaknai sebagai kesempatan untuk menjelajah wilayah yang diamanahkan kepadanya sehingga dengan semakin mengenalnya, AR yang bersangkutan dapat mengambil langkah penyesuaian lain di bidang non teknis lain untuk menopang kinerjanya. Penyesuaian tersebut antara lain seperti bagaimana berkorespondensi dengan Wajib Pajak jika kondisi alamat di wilayah kerjanya sulit dilacak jasa ekspedisi atau bagaimana sebaiknya sistem yang tepat dan efisien untuk bisa menjumpai Wajib Pajak jika didapati Wajib Pajak jarang di lokasi setiap kali ditemui.

Pemahaman Budaya Lokal

Sering kali didapati bahwa di daerah tertentu, budaya lokal adalah bagian dari kehidupan masyarakat. Wajib Pajak sendiri tentu saja adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan bermasyarakat sehingga banyak Wajib Pajak masih memegang nilai-nilai budaya lokal dalam aktivitas sehari-hari. Bagi seorang AR, pemahaman atas kondisi ini memang sebaiknya komprehensif agar terhindar dari kesalahpahaman dalam menjalankan tugas. Untuk memudahkan proses pembelajaran hal ini, AR dapat mempelajarinya dari tokoh masyarakat yang dipandang/dituakan di lingkungan masyarakat yang menjadi wilayah kerjanya. Hal ini sangat mendukung untuk membangun ikatan emosional atau rasa empati antar AR dengan Wajib Pajak. AR juga dapat memanfaatkan bantuan Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan (KP2KP) untuk mengenal budaya setempat. Aspek budaya lokal yang paling cepat dapat dikenal AR tentu saja adalah bahasa. Jadi tidak ada salahnya bagi seorang AR untuk mempelajari bahasa lokal yang sehari-hari dipakai Wajib Pajaknya. Selain untuk membangun kualitas hubungan yang lebih baik, kesamaan bahasa dapat menjadi jalan untuk terciptanya komunikasi yang lebih mengena.

Kemampuan Berkomunikasi

Dalam menjalankan tugasnya, AR, terutama AR yang menjalankan fungsi pelayanan dan konsultasi tentu sering berhadapan dengan keluhan atau beradu argumentasi dengan Wajib Pajak. Begitu juga saat berhadapan dengan Wajib Pajak secara langsung di lapangan tempat usaha Wajib Pajak dimana potensi konflik dapat muncul lebih besar. Disini dibutuhkan kemampuan berkomunikasi dengan tetap mampu bersikap lugas/ramah tanpa mengorbankan ketentuan yang berlaku. AR harus mampu membangun argumentasi yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku lalu menyampaikannya dengan tenang tanpa jatuh pada konflik atau perseteruan yang dapat membuat buruk citra AR tersebut sebagai pribadi dan citra DJP sebagai institusi. AR bekerja berdasarkan tahapan yang telah diatur. Ini yang harus dipegang setiap AR, artinya setiap konfrontasi yang berakhir dengan kebuntuan tidak perlu dibawa hingga menjadi konflik. AR hanya cukup menyampaikan bahwa setiap resistensi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan Wajib Pajak akan menyebabkan munculnya konseksuensi yang lebih besar. Sampai disini tugas AR dalam berkomunikasi, AR tidak perlu meyakinkan lebih jauh untuk membuat Wajib Pajak mau memahami. Sebab selain dikejar prioritas lain, sistem untuk menangani kondisi semacam ini sudah disusun sesuai dengan tahap-tahapnya.

Secara sederhana, bagaimana ketiga unsur ini membangun kondisi yang menunjang AR untuk memahami wilayah kerjanya dapat disajikan dalam halaman 4 link artikel berikut:

Saran Kinerja AR

Penguasaan dan penerapan dengan baik atas kedua prinsip know your tax payer dan know your territory tentu saja bukan syarat mutlak yang dapat menjamin kinerja AR menjadi sempurna. Keduanya baru merupakan tahap awal yang menopang efektivitas tahap-tahap selanjutnya. Tahap itu antara lain melakukan analisis kebenaran materiil terhadap data transaksi Wajib Pajak dan optimalisasi pemanfaatan data dari berbagai sumber untuk memperkaya referensi dalam melakukan analisis. Keduanya belum penulis singgung dalam satu tulisan ini karena memang diperlukan satu pembahasan khusus karena sifatnya sudah melibatkan penguasaan terhadap kemampuan teknis di bidang perpajakan. Namun setidaknya, dengan menerapkan unsur-unsur dalam prinsip know your tax payer dan know your territory, kunci untuk menjadi AR yang produktif telah dipegang. Tentu saja setiap unsur yang disampaikan dalam tulisan ini sangat dimungkinkan untuk disesuaikan dengan kebutuhan AR atau sesuai dengan kreativitas yang muncul dalam pelaksanaan tugas AR yang bersangkutan. Karena memang sifat dari rumusan unsur-unsur ini adalah tentang bagaimana agar fungsi pengawasan yang dijalankan KPP dapat berjalan dengan baik demi memaksimalkan peran AR dalam mengoptimalkan pencapaian target penerimaan negara.

Gambar diambil dari sini

4 komentar untuk “Kinerja Account Representative (AR): Sebuah Saran Mendasar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: