Momentum Itu Bernama Pajak Bertutur (Patur)

Oleh: Erikson Wijaya, S.E., AAP-A

Tahukah kamu bahwa sejumlah negara di dunia ini memiliki satu hari khusus untuk memperingati pajak dalam kehidupan sehari-hari mereka? Amerika Serikat memilih satu hari pada pekan kedua April (sekitar tanggal 15-18 April) dan menamainya National Tax Day. Ada pula Bangladesh dengan memperingati National Income Tax Day setiap tanggal 15 September. Rwanda juga demikian, setiap tanggal 13 Agustus mereka merayakan Taxpayer Day. Bagaimana dengan Indonesia? Negara ini punya sebuah program yang disebut Pajak Bertutur, disingkat Patur. Dikutip dari laman resmi edukasi pajak disebutkan bahwa melaksanakan kegiatan mengajarselama satu jam latiham (jamlat) yang dilakukan oleh seluruh unit kerja Direktorat Jenderal Pajak (DJP) di Indonesia secara serempak kepada sekolah tingkat dasar (SD), tangka menengah (SMP), tingkat atas (SMA) dan tingkat perguruan tinggi. Diharapkan dengan acara tersebut dapat menjadi momen pembuka bagi terlaksananya program edukasi kesadaran pajak dalam pendidikan sehingga dapat terlaksana sesuai jadwal dan mendapatkan dukungan dari berbagai pihak.

Masalah perpajakan di Indonesia tiada lain lahir dari silang sengkarut menahun atas permasalahan demi permasalahan yang gagal ditangani secara komprehensif sejak dini. Inti masalah tersebut dapat disederhanakan menjadi satu isu besar yaitu kepatuhan. Tentu saja tidak mudah menumbuhkan kepatuhan pajak di masyarakat. Pajak bukan benda yang disukai meskipun keberadaanya dibutuhkan untuk menopang kesejahteraan khalayak. Kepatuhan pajak sebagai sebuah perilaku-sadar dipengaruhi oleh faktor-faktor yang saling berinteraksi sejak lama, salah satu di antaranya adalah pendidikan. DJP telah merintis upaya untuk menjadikan pendidikan sebagai salah satu pintu masuk membangun perilaku sadar pajak.  Upaya inilah yang awalannya nanti akan dibuka dengan peluncuran Program Patur. Patur diharapkan dapat menyambangi sekitar 110.000 peserta didik secara serempak di tanggal yang sama yaitu, 11 Agustus 2017.

Pesan yang hendak disampaikan secara dini melalui Patur secara garis besar adalah bahwa pajak sudah menjadi bagian yang melekat dalam kehidupan sebagai warga negara. Ia ada sejak kita masih dalam kandungan bahkan sampai kelak kita menua. Namun tentu saja setiap jenjang akan menerima pesan dengan konten perantara yang berbeda-beda. Untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) pesan inti meliputi nilai-nilai “Berbagi dan Gotong Royong”, “Pajak sebagai pelaksanaan Hak dan Kewajiban sebagai Warga Negara” bagi tingkat SMP, “Pajak sebagai Tulang Punggung Pembangunan” bagi tingkat SMA, dan “Pajak sebagai perwujudan Ipoleksosbudhankam” bagi mahasiswa Perguruan Tinggi. Program ini merupakan proyek besar Ditjen Pajak sehingga seluruh pegawai termasuk pimpinan setiap unit diminta untuk turun langsung ikut berpartisipasi.

Patur menjadi momentum bahwa negeri ini sudah semakin serius untuk mewujudkan karakter masyarakat yang sadar pajak. Gong Patur yang akan ditabuh sekitar 4 hari kedepan, merupakan tanda dimulainya investasi jangka panjang dalam skema inklusi kesadaran pajak dalam pendidikan. Ini merupakan program mulia yang belum pernah ada sebelumnya dalam perjalanan Indonesia sejak dulu hingga kini. Peserta didik menjadi subjek utama program ini karena mereka adalah generasi penerus pada masa mendatang. Mereka akan mengemban tugas melanjutkan pembangunan dan itu tidak akan mudah sama sekali. Membayar pajak, tentu saja adalah salah satu cara yang nantinya dapat mereka lakukan untuk menjalankan tugas itu. Namun ini hanya dapat dilaksanakan jika para generasi penerus tersebut memiliki kesadaran dan mau bersikap patuh. Dan Pajak Bertutur adalah rangkaian upaya kita untuk mewujudkan itu.

Gambar diambil dari sini

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: