Tax Café: Karena Semua Bebas Bicara

Pernahkah anda berpikir bahwa idealisme kerap kali bermula dari obrolan kelas warung kopi? Perjalanan sejarah dunia telah mencatat bahwa warung kopi atau café telah menjadi tempat lahir dan berkembangnya idealisme, harapan, dan cita-cita luhur manusia kelas akar rumput. Café kemudian menjadi tempat untuk membicarakan ide-ide besar yang mulanya hanya terasa menjadi milik kaum tertentu dan terbatas di gedung-gedung pencakar langit atau mimbar akademik. Termasuk dalam salah satu ide besar itu adalah soal perpajakan. Pajak adalah sebuah tema yang tidak tinggal di ruang hampa sejarah. Ia melekat sebagai catatan hidup tentang perjalanan sejarah bangsa-bangsa manapun di dunia ini, termasuk Indonesia.

Dengan segala lebih kurangnya, perpajakan Indonesia masih memiliki sejumlah titik optimalisasi. Titik ini yang harus dibicarakan dengan semangat berbasis idealisme dan pengharapan tentang cita-cita yang lebih baik. Lalu pernahkan anda membayangkan bahwa sambil bersantai di café dan menyesap kehangatan kopi anda pun bisa menjadi bagian dari semangat dan harapan itu? Jika anda masih ragu, mungkin karena anda belum mengenal sebuah forum bernama Tax Café. Sebuah forum yang memandang dan memposisikan anda, saya, dan siapapun yang datang sebagai pribadi yang setara. Forum yang berupaya membawa bahasan mengenai pajak agar keluar dari episentrum ekslusifnya di Jalan Gatot Subroto atau Lapangan Banteng.

Tax Café tidak digelar dengan balutan nuansa akademis yang rigid melainkan dengan kehangatan yang membangunkan daya kritis. Tetapi bukan berarti diskusi yang dibentuk kemudian berlepas diri dari dukungan basis ilmiah dan objektif. Diskusi di dalam forum Tax Café diawali oleh 1-2 orang pemantik yang akan menyampaikan paparannya mengenai tema pilihan yang diangkat. Materi paparan sang pemantik tentunya berbasis pemikiran komprehensif yang berdasar dan dapat dipertanggungjawabkan sehingga jauh dari prasangka subjektif yang emosional. Suasana yang terbangun selama sesi diskusi dijamin tetap terasa santai terlebih ditemani dengan suguhan kopi hangat. Sehangat debat konstruktif yang kemudian muncul.

Café sendiri dipilih sebagai lokasi pertemuan digelar. Mengapa Café? Karena Café identik dengan gaya hidup kekinian yang mulai menyentuh banyak kalangan. Tidak ada kelas dalam menikmati café. Apapun jabatan dan posisimu diluar sana, selagi kita menikmati kopi yang sama maka kita setara sebagai lawan bicara. Anda berminat untuk hadir? Maka anda bisa mendaftarkan diri terlebih dahulu karena memang kuota nya dibatasi. Pembatasan dimaksudkan untuk menjaga fokus diskusi agar tidak terlalu riuh. Pendaftaran dilakukan dengan mengisi formulir registrasi secara online di alamat yang nanti beredar jelang pelaksaaan. Lengkap dengan informasi seputar lokasi, pemantik diskusi, dan tanggal pelaksanaan. Sejauh ini direncanakan gelaran Tax Café diadakan setiap satu bulan sekali.

Mimpi terbesar melalui Tax Café adalah lahirnya pemikiran- pemikiran yang dapat menjembatani kondisi di lapangan (empirik) dengan kondisi ideal yang didambakan. Upaya semacam ini jika digalakkan secara masif di banyak tempat dan kesempatan dapat menciptakan sebuah budaya baru yang hingga titik tertentu diharapkan akan mendorong perubahan kondisi perpajakan ke arah yang lebih baik. Meski belum terlihat benar bagaimana jalur menuju titik itu, tetapi konsistensi yang menahun akan menghantarkan gerakan semacam Tax Café ini pada suatu kondisi dimana keluaran yang dihasilkan mulai didengar dan diperhitungkan dalam mengambil kebijakan oleh yang berwenang.

Tax Café perdana telah digelar 15 Desember kemarin. Tema yang diangkat adalah Penegakan Hukum Pasca Amnesti Pajak dan bertempat di Anomali Coffee di Jalan Senopati Jakarta Selatan. Peserta yang hadir antusias untuk menyimak bahasan dari pemantik dan kemudian mengemukakan pendapatnya. Suasana terjalin hangat. Kepiawaian moderator diskusi juga membuat jalannya diskusi menjadi menarik dan terjadwal sesuai waktu yang diharapkan. Dengan banyak latar belakang peserta yang hadir, tambahan wawasan yang muncul juga telah meneguhkan semangat dan pengharapan bahwa kondisi perpajakan negeri ini bisa menjadi lebih baik. Padahal diskusi itu tidak digelar di ruang rapat atau ruang kelas yang cenderung serius dan sarat tekanan. Melainkan di sebuah cafe, tempat yang nyatanya dapat berkontribusi melahirkan pemikiran untuk perpajakan Indonesia yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *